25 September 2017
Search :
PELUANG USAHA


Merambah Pasar Dagang HONGARIA
Selasa, 01 Agustus 2006

Masuknya Hongaria ke dalam Uni Eropa mendorong Indonesia untuk menjajaki potensi pasar dalam negerinya. Negara berpenduduk 10,06 juta jiwa ini ternyata memiliki daya tarik pasar yang cukup menjanjikan.
Selama lima tahun terakhir ada kecenderungan peningkatan permintaan produk-produk manufaktur ringan Indonesia ke negara tersebut rata-rata 26,5% per tahun, seperti furnitur, tekstil dan garmen, plastik, alaskaki, kulit dan barang kulit, produk kimia, tinta, produk kayu, serta produk pertanian seperti teh, kopi, cokelat, tembakau dan rokok.
Selain itu, negara di Eropa Tengah ini dikenal sebagai pengimpor utama produk kopi, teh, cokelat, dan bumbu-bumbu untuk bahan baku bagi industri pengolahan makanan dan minumannya. Tidak kurang dari US$ 150 juta per tahun dipakai untuk membeli keperluan itu.
Khusus untuk kopi, saat ini di Hongaria beredar sekitar 36 jenis biji kopi. Belakangan ini kopi robusta Indonesia semakin dikenal dan mendapat tempat di konsumen negeri ini, terutama disebabkan oleh kandungan kafeinnya yang cukup tinggi.
Begitu pula dengan kakao (biji cokelat), saat ini kalangan impotir kakao Hongaria mulai melirik pasar kakao Indonesia sebagai alternatif pemasok bagi industri confectionery-nya. Berdasarkan pengamatan, umumnya impotir Hongaria merasa puas berhubungan dagang dengan kalangan eksportir kakao Indonesia, baik menyangkut mutu, harga maupun delevery time-nya.
Peluang-peluang yang ada itulah yang saat ini tengah digarap secara serius oleh pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pihak swasta nasional untuk memanfaatkan pasar Hongaria secara maksimal agar bisa memberikan nilai tambah yang berarti bagi perkonomian nasional di masa depan.

Potensi Pasar
Hongaria yang memiliki luas wilayah 93.030 km2 ini selalu surplus dalam produksi pertaniannya terutama gandum. Untuk keperluan industri pengolahan makanan, Indonesia dapat mengimpor gandum dari sana. Sebab selain kualitasnya baik, harganya juga kompetitif. Tidak tertutup kemungkinan dilakukan pembelian gandum Hongaria ini melalui skema counter trade/barter dengan produk andalan Indonesia lainnya seperti produk migas.
Negara yang sedikit luas dari Austria tetapi setengah luas Oklahoma atau Missouri ini juga dikenal sebagai negara agraria modern dengan penggunaan teknologi menengah yang sesuai bagi Indonesia. Dalam hal ini dapat digali kemungkinan kerjasama di bidang pertanian dan produk-produknya.
Disamping itu, Hongaria memilki teknologi pengembangan ternak (bebek dan poultry breeding) yang sangat maju. Pada tahun 1990-an Indonesia pernah membeli puluhan bibit unggul sapi dari Hongaria yang terkenal penghasil susu dan daging yang berkualitas baik. Dengan pengalaman tersebut, pihak perusahaan Indonesia dapat kembali memanfaatkan terknologi tersebut.
Dibidang farmasi, Hongaria juga dikenal memiliki perusahaan-perusahaan besar, misalnya Richter, Egis dan Pharmavit. Perusahaan farmasi dari Indonesia dapat menimba ilmu dan pengalaman bagaimana mengelola industri farmasi yang lebih baik dan maju. Apalagi, negara kita juga terkenal sebagai negara penghasil bahan dasar bagi keperluan industri farmasi, sehingga sangat mungkin dijajaki kerjasama perdagangan di bidang ini.
Selanjutnya, negeri ini tidak memiliki kayu dan hutan seperti Indonesia, namun memiliki teknologi dan industri pengolahan kayu yang maju. Ini tentu saja kesempatan emas bagi para eksportir kita untuk memasarkan produk kayu setengah jadi ke sana, seperti kusen pintu dan jendela, kayu untuk atap rumah, bahan-bahan untuk tamanserta keperluan-keperluan lainnya.
Hongaria cocok untuk pasar ikan hias kita. Berdasarkan survey, Budapest sangat tepat untuk dijadikan sebagai terminal/depo sekaligus pusat industri ikan hias asal Indonesia untuk pasar Hongaria maupun negara-negara di sekitarnya seperti Kroasia, Serbia Montenegro dan Rumania.
Di sektor pariwisata, Hongaria merupakan negara ke-12 menjadi tujuan wisata dunia. Hal ini juga bisa dimanfaatkan untuk dunia wisata Indonesia untuk mempelajari pengalaman Hongaria dalam mengelola sektor pariwisatanya. Selain itu dapat pula dijajaki kerjasama pariwisata di antara keduanya guna lebih meningkatkan lagi kunjungan wisata dari dan ke Indonesia maupun Hongaria.

Kerjasama Ekonomi
Dalam lima tahun terakhir (2000-2004) neraca perdagangan kedua negara menunjukkan posisi surplus bagi Indonesia. Surplus pada tahun 2004 sebesar US$ 83,3 juta sementara tahun 2005 (Januari-Juni) sebesar 19,4 juta.
Data BPS menyebutkan, total nilai perdagangan Indonesia-Hongaria pada tahun 2004 tercatat sebesar US$ 107,9 juta, dengan trend perdagangan di antara keduanya menunjukkan angka yang positif, yaitu 33,50%. Sedangkan pada tahun 2005 (Januari-Juni) tercatat sebesar US$ 39,8 juta, turun 20,64% dibandingkan periode yang sama tahun 2004.
Nilai ekspor Indonesia ke Hongaria pada tahun 2004 sebesar US$ 95,6 juta, turun 1,95% dibandingkan tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 97,5 juta. Untuk tahun 2005 (Januari-Juni) tercatat sebesar US$ 29,53 dibandingkan periode yang sama tahun 2004.
Sementara impor negara kita dari Hongaria tahun 2004 sebesar US$ 12,3 juta, meningkat 4,45% dibandingkan tahun 2003 yang tercatat sebesar US$ 11,8 juta. Sedangkan tahun 2005 (Januari-Juni) tercatat sebesar US$ 10,2 juta, naik 25,37% dibandingkan periode yang sama tahun 2004. Sepuluh mata dagangan impor kita dari Hongaria adalah SITC-714 (mesin motor dan suku cadang), SITC-248 (kayu setengah jadi, bantalan kayu untuk rel kereta api), SITC-778 (mesin listrik dan suku cadangannya), SITC-541 (produk farmasi dan kesehatan), SITC-515 (bahan campuran untuk obat baik organik maupun non-organik), SITC-533 (zat warna, cat, pernis dan bahan-bahan sejenis), SITC-873 (alat penghitung dan pengukur), SITC-775 (perlengkapan rumah tangga baik elektrik maupun non-elektrik), dan SITC-725 (gilingan kertas dan bubur kertas, serta mesin pemotong kertas).
Strategi ekonomi Hongaria memasuki Millenium ke-3 adalah dimulai dengan perubahan di bidang ekonomi. Beberapa tahun lalu perekonomian Hongaria diancam krisis, namun sekarang ini keadaan perekonomiannya telah maju dengan menganut sistem Barat dan menerapkan ekonomi pasar.
Karakter kinerja perekonomian sejak tahun 2000 adalah pertumbuhan ekonomi lebih pesat daripada yang direncanakan, sedangkan indikator keseimbangan keuangan berjalan dengan baik, antara lain defisit neraca berjalan dan konsolidasi defisit APBN lebih baik daripada periode yang sama tahun sebelumnya.


Peluang Ekspor ke Amerika Selatan dan Karibia

Selasa, 01 Agustus 2006
Dalam rangka Pameran Produk Ekspor Daerah/jogja Ekspor Ekspo 2004 telah hadir staf Kedutaan Besar Indonesia untuk negara Suriname, Brasil, dengan menyertakan beberapa pengusaha dari Amerika Selatan dan Karibia. ()

Pengunjung hari ini :  
Total Pengunjung    :  

Copyright © 2003 Indag-DIY. All rights reserved. Contact Us.
Designed by THINKNOLIMITS.