25 September 2017
Search :
PELUANG USAHA


Menerobos Peluang Pasar Afrika Selatan
Sabtu, 05 Agustus 2006

Setelah berhasil membidik pasar beberapa negara, kini Indonesia mencoba menerobos peluang pasar di negara termakmur di kawasan Afrika, yakni Afrika Selatan.
Ekspansi pasar ke negeri Nelson Mandela ini sangat strategis, mengingat potensi yang dimilikinya cukup besar. Indnesia sangat mungkin meningkatkan nilai ekspornya selain juga menjajaki pembentukan FTA (free trade area).
Sekedar diketahui, nilai ekspor negara kita ke Afrika Selatan hingga Mei 2005 mencapai US$121,72 juta meningkat 27,7% jika dibanding dengan periode yang sama Mei 2004) yang hanya sebesar US$ 95,25 juta.
Namun demikian pangsa pasar produk negara-negara ASEAN di Afrika Selatan masih relatif kecil jika dibanding dengan negara lain seperti Eropa, Amerika, Jepang dan China.
Laporan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Johannesburg menyebutkan, pangsa pasar keenam negara ASEAN ke Afrika Selatan selama periode Januari-September 2004 Cuma sebesar 4,2% dari total impor Afsel. Perinciannya Indonesia 1,7 miliar Rand (0,70%), Malaysia 3,1 miliar Rand (1,3%), Filipina 455,0 juta Rand (0,02%), Singapura 1,2 miliar Rand (0,735%), Thailand 3,5 miliar Rand (1,22%) dan Vietnam 91,1 juta Rand (0,075%).
Inilah yang menjadi pertimbangan Indonesia kenapa memilih Afrika Selatan untuk dijadikan sasaran perluasan pasar berikutnya. Tidak lain, karena masih adanya peluang serta potensi yang dimilikinya.

Potensi Afsel
Negeri ini merupakan salah satu negara di kawasan Afrika bagian selatan yang dikenal memiliki peran penting dalam bidang politik dan ekonomi. Dalam berbagai fora internasional negara ini memberikan pengaruh besar terhadap penentuan strategi kebijakan politik dan ekonomi di kawasan selatan Afrika.
Afrika selatan adalah negara ketiga dari 14 negara anggota The Southern africa development Community (SADC) yang mempunyai pendapatan perkapita tertinggi di atas 5000 dolar AS setelah Mauritius dan Botswana.
Itu sebabnya ia memegang peranan penting dala perdagangan dunia, termasuk antar kawasan regional dan sub-regional. Bisa dikatakan, Afrika Selatan merupakan pintu masuk bagi lalu lintas orang, barang modal dan jasa dari dan ke berbagai kawasan Afrika bagian selatan, sehingga mendorong negara ini memasuki pasar bebas dalam perdagangannya.
Yang pasti, kawasan Afrika bagian selatan yang tergabung dalam SADC merupakan kawasan yang potensial bagi produk ekspor Indonesia, karena selain berpenduduk hampir 165 juta jiwa, pasar besar ini belum digarap dengan baik.
Afrika Selatan juga merupakan spring board country ke negara-negara landlock dan negara-negara landlock dan negara-negara yang tergabung dalam SADC. Lebih dari itu, negara ini juga tergabung dalam Southern Afrika Customs Union (SACU) yang mendapat perlakuan bebas pajak anta anggotanya, serta COMESA (The Common market for Eastern and Southern Africa).
Dengan memasuki pasar Afrika Selatan, Indonesia dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang diperoleh Afrika Selatan untuk menerobos pasar negara-negara SACU dan COMESA. Tidak hanya itu, Afrika Selatan yang memiliki fasilitas infrastruktur modern dapat dimanfaatkan Indonesia untuk mendukung distribusi barang ke sentra ekonomi utama di seluruh Afrika Selatan maupun negara-negara tetangganya.

Hubungan Bilateral
Hubungan Indonesia-Afrika Selatan sebetulnya sudah terjalin lama sejak negara kita mendukung perjuangan ANC (African National Congress) menentang politik apartheid. Namun, hubungan diplomatik kedua negara baru resi berjalan sejak ditandatanganinya Komunike Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik oleh wakil tetap RI dan wakil tetap Afrika Selatan di New York pada 12 Agustus 1994.
Setelah itu kedua negara berturut-berturut melakukan perjanjian bilateral. Pertama, persetujuan perdagangan (trade agreement) yang ditandatangani oleh masing-masing Menteri Luar Negeri pada 30 November 1997 di Cape Town, Afrika Selatan. Kedua, MOU SME?s Indonesia dengan SME?s Provinsi Kwazalu Natal Afrika Selatan yang ditandatangani pada Juli 2003 di Afrika Selatan. Ketiga, Komunike Bersama mengenai pendirian Komisi Dagang Bersama (Joint Statement on Establisment of the Joint Trade Commission) antara RI-Afrika Selatan yang ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 19 April 2005 dalam acara plenary meeting antara delegasi RI dan delegasi Afrika Selatan pada KTT Asia-Afrika di Jakarta.
Mengingat hubungan yang baik tersebut, maka negara kita merasa perlu meningkatkan hubungan yang lebih erat dan konkret lagi dengan kemungkinan membentuk FTA (Free Trade Area) di antara kedua negara.

Pembentukan FTA
Pembentukan FTA Indonesia-Afrika Selatan itu disamping untuk peningkatan akses pasar ekspor negara kita ke negara-negara kawasan Afrika Selatan sebagai pintu masuk utamanya, sekaligus mengamankan pangsa pasar barang dan jasa, juga dimaksudkan untuk dapat menghapus hambatan perdagangan dan mempermudah arus barang dan jasa antar kedua negara.
Adapun alasan dari pembentukan FTA tersebut di antaranya adalah hapusnya hambatan-hambatan di bidang perdagangan dan investasi di antara kedua negara akan lebih cepat.
Selain itu, melalui pendekatan pembentukan FTA, akan terlihat pentingnya integrasi ekonomi yang lebih luas dan dalam, melalui kerjasama bilateral. Di samping juga dimaksudkan untuk mengetahui economic, wide impact secara umum.


Potensi Perdagangan dan Investasi Mesir

Sabtu, 05 Agustus 2006
Mesir, negara di Afrika Utara yang berpenduduk hampir 27 juta jiwa, yang pada Juni lalu dikunjungi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beserta rombongan ini ternyata memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup lumayan.()

Pengunjung hari ini :  
Total Pengunjung    :  

Copyright © 2003 Indag-DIY. All rights reserved. Contact Us.
Designed by THINKNOLIMITS.