25 September 2017
Search :
PELUANG USAHA


INFORMASI HARGA KOMODITI PERKEBUNAN DI PASAR LUAR NEGERI
Kamis, 20 September 2007

¨       KAKAOIndonesia bantu hapuskan diskon harga kakao di ASPemerintah Indonesia akan berupaya membantu menghilangkan pemotongan harga sebesar US$ 100 per ton pada produk kakako negara itu, akibat masih diterapkannya automatic detention oleh AS sejak 1991. Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Departemen Perdagangan Indonesia Harmen Sembiring mengatakan pemerintah sedang berupaya agar pengenaan Automatic Detention oleh AS tidak diberlakukan pada semua eksportir Indoesia. Automatic Detention ini diterapkan karena produk kakao Indonesia dinilai mengandung hama, kotoran dan belum terfermentasi, sehingga dinilai merugikan importir. Aturan itu dapat dicabut jika selama lima kali ekspor secara berturut-turut memenuhi ketentuan negara tersebut Namun hal itu suit dipenuhi eksportir Indonesia karena belum adanya standarisasi produk. Harus ada perusahaan besar yang memiliki perebunan yang berkualitas pengolahan bagus untuk ditinjau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA). Saat ini harga kakao dunia naik sekitar 30%. Harga kakao yang tadinya US$1.415 per ton sejak awal Maret ini mengalami kenaikan rata-rata US$ 500 per ton hingga mencapai US$ 1.920 per ton. Ekspor kakao Indonesia pada 2006 mencapai 450.000 ton, sedangkan produksinya mencapai 590.000 ton. Sementara itu, ekspor ke AS sendiri tahun lalu mencapai US$ 250,2 juta dan pada 2007 ditargetkan meningkat sebesar 29% menjadi US$ 324,4 juta. Harga Kakao Cenderung Meningkat Harga kakao dalam jangka pendek masih bergerak sideways dalam kisaran yang lebar, sedangkan untuk jangka menengah dan panjang harga komoditas itu memiliki kecenderungan meningkat ke level psikologis US$ 2.000 per ton. Kenaikan harga itu bakal dipengaruhi perkiraan peningkatan defisit pasokan komoditas di pasarglobal. Pada periode 2006-2007 menurut data International Cocoa Organization, pasokan kakao global bakal turun hingga 103.000 ton. Sementara itu, data Hans Killian, analisis independen, memperkiran volume penurunan pasokan itu dapat lebih besar lagi hingga mencapai 250.000 ton. Dengan kondisi fondamental tersebut, pelaku pasar saat ini menganggap harga komoditas itu bakal meningkat lagi ke level psikologis US$ 2.000 per ton di New York Board of Trade. Sementara itu, di BBJ harga kakao diprediksi mencapai posisi Rp 16.000 per kg. Mengenai pergerakan harga kakao dalam jangka pendek yang bergerak cukup lebar, kami melihat hal itu dipengaruhi beberapa faktor seperti proyeksi panen, cuaca, nilai tukar pounsterling dan rupiah terhadap dor AS. Dari sisi panen, komoditas itu sebenarnya udah memasuki musimnya, sehingga kendati fundamental jangka panjang cenderung bullish, pelaku pasar masih hati-hati.Panen kakao tahun ini diperkirakan tidak seperti beberapa tahun sebelumnya, karena sebagian besar tanaman kakao terlihat mengalami tumbuh tunas baru dan belum menghasilkan bunga dan buah akibat musim kemarau panjang pada tahun lalu.Berakhirnya kontrak  berjangka kakao di New York untuk periode Mei akan mempengaruhi transaksi kontrak berjangka di BBJ. Sebab biasanya pelaku pasar akan mulai melikuidasi posis belinya, sehingga komoditas sulit bergerak naik dan mengalami tekanan jual.Adapun posisi support harga kakao, akan berada pada level US$1850-US$1.840 per ton, kemudian mencapai US$1.816-US$1.810. Sedangkan level bertahan berada pada level US$1.900 hingga US$1.925 per ton. Kenaikan Harga Kakao Dorong Ekspr Naik Peningkatan nilai ekspor Sulawesi Selatan, daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia sangat mungkin dilakukan menyusul kecenderungan kenaikan harga kakao dunia yang telah berlangsung sejak Maret silam. Saat ini harga biji kakao dunia rata-rata mencapai US$1.900 hingga US$2.000 per ton, atau meningkat sekitar US$500 dibandingkan sebelumnya yang sekitar US$1.450-US$1.500 per ton. Akibat perubahab iklim panen kakao yang biasanyaberlangsung pada Maret-Juni dan Agustus-Desember bergeser ke Mei-Agustus dan Oktober-Februari. Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan setiap tahun menyumbang sekitar 350.00 ton atau 50%-60% dari produksi kakao nasional  yang pada 2006 mencapai 590.000 ton. Saat ini Indonesia masih merupakannegara produsen kakao nomor tiga di dunia setelah Pantai Gading, dan Ghana. Namun kesempatan untuk memetik keuntungan dari kenaikan harga atau kurangnya pasokan kakao dari negara lain sering tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal karena berbagai kendala klasik seperti rendahnya kualitas, serangan hama, atau penyempitan lahan. Harga Kakao Indonesia Harganya Rendah Biji kakao Indonesia yang diekspor ke AS terkena biaya fumigasi ulang hanya US$4 per ton, dan bukan seperti yang diklaim pemerintah terkait dengan automatic detention sebesar US$100 per ton. Hal tersebut dikatakan oleh Sekjen Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang bahwa pihaknya telah menyelesaikan masalah tersebut pada Oktober 2005 bersama staf Atase Pertanian dan Perdagangan Indonesia di saat ada acara pertemuan World Cocoa Foundation (WCF). Jadi informasi ang beredar selama ini yang menyatakan ada biaya automatic detention sebesar US$100 per ton keliru, dan AS tidak prnah menarik sebesar itu, katanya. Pengenaan biaya fumigasiulang yang diterapkan pemerintah AS berlaku juga dengan diterapkan kepada negara pengekspor kakao lainnya seperti Pantai Gading, produsen terbesar kakao dunia. FDA (Badan Karantina AS) khawatir terdapat hama pada kakao yang diimpor, karena pengiriman kakao Indonesia ke AS memakan waktu 40 hari, sehingga selama waktu tersebut hama bisa bertelur dan menetas, sedangkan biji kakao dari Pantai Gading memakan waktu 20 hari. Ditegaskan juga olh Zulhefi bahwa perbedaan harga antara biji kakao Indonesia dengan Pantai Gading sekitar US$120-US$180 per ton disebabkan produktivitasnya sangat rendah karena mengandung hama cocoa pod barer yang menyebabkan tingginya kandungan kotoran. ¨       MINYAK KELAPA SAWITHarga CPO Akan Sentuh 2.500 Ringgit Harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) di Malaysia diprediksi dapat mencapai level 2.500 ringgit (US731) per ton karena dipicu kenaikan permintaan global 4 juta ton dari India dan China. Prediksi ini lebih tinggi dari perkiraan 14 Maret sebesar 2.400 ringgit. Demikian disampaikan Dorab Mistry, Direktur Gordrej International, konsumen CPO tebesar di Inia sejak 1976. Impor CPO India diperkirakan mencapai 6,4 juta ton untuk periode 2006-2007 atau naik 1 juta ton dari posisi tahun lalu sebesar 5,4 juta ton. China, konsumen CPO terbesardi  dunia, mengimpor bahan minyak goreng ini sebanyak 414.965 ton pada bulan lalu atau 26% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Pada periode tahun yang berakhir September, impor komoditas itu baka naik 20% menjadi 6 juta ton. Permintaan CPO India Naik India importir minyak sawit mentah (CPO) terbesar kedua di dunia setelah China, diperkirakan menaikkan pembelian komoditas itu sebesar 36%. Peningkatan pembelaian komoditas dilakukan seiring kebijakan pemerintah yang menurunkan pajak, sehingga membuat minyak tersebut lebih menarik dari pada minyak kedelai. Amol Tilak, analis Kotak Commodity Service Ltd, Mumbai mengatakan impor komoditas itu dipeirakan naik menjadi 323 juta ton pada periode tahun yang berakhir Otober dari posisi sebelumnya 2,37 juta ton.Sementara itu pembelian kedelai negara itu diperkirakan naik 4,5% menjadi 1,78 juta ton. Kenaikan impor CPO Inia diperkirakan kian menguras cadangan komoditas Malaysia, produsen terbesar di dunia. Permintaan bahan baku minyak makan itu diketahui telah mendongkrak harga CPO ke level tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Permintaan India jelas akan menjaga harga CPO tetap di posisi atas kata Tilak. Konggres India yang tengah berjuang mengatasi tingkat inflasi yang secara politis tidak menguntungkan, telah memangkas pajak CPO guna mengendalikan harga komoditas itu. Pembelian minyak kelapa sawit, komoditas yang paling banyak diimpor, naik 30%dalam peride lima bulan yang berakhir 31 Maret menjadi 1,07741 juta ton. Malaysia dan Indonesia diketahui menjadi pemasok utamanya. Kedua negara ini menjadi pemasok 85% otal kebutuhan CPO dunia. Produksi minyakyang berasal dari komoditas biji-bijian di India pada periode tahun yang berakhir Juni diperkirakan merosot 17% menjadi 23,26 juta ton dari tahun sebelumnya. Harga CPO untuk pengirimanJuli di Bursa Derivatives Malaysia telah naik 45 ringgit atau 2% menjadi 2.283 ringgit per ton yang sebelumnya sempat menyentuh level 2.400 ringgit per ton. Stok CPO Malaysia Merosot Dorong Harga Naik Persediaan menyak kelapa sawit (CPO) Malaysia periode April merosot 12% hingga level terendah dalam tiga tahun terakhir, ketika ekspor komoditas itu kian meningkat. Harga komoditas itu di pasar telah mencapai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Persediaan CPO Malaysia telah turun menjadi 1,18 juta ton pada April dari level sebelumnya 1,34 juta ton. Malaysia Palm Oil Board menyebutkan ekspor komoditas itu telah meningkat 5,9% menjadi 1,12 juta ton pada April. Harga CPO untuk pengiriman Juli di Malaysia Derivatives Exchange naik 38 ringgit atau 1,7% menjadi 2,327 ringgit (US$684) per ton, posisi tertinggi sejak 16 November 1998. Kenaikan Harga CPO Bakal Dongkrak Harga Produk Akhir Harga produk turunan akhir berbahan baku menyak sawit mentah (CPO) diproyeksi segera meningkat 6%-20% bila komoditas itu bertahan pada level US$750 per ton hingga akhir Mei. Kalangan industri yang berbahan baku minyak sawit harus memotong margin untuk menutupi biaya produksi akibat kenaikan harga komoditas itu. Harga produk pangan seperti mie instant, dengan struktur biaya minyak goreng 20% diproyeksi naik sekitar 6%, sedankan harga margarine yang berbahan baku minyak goreng 70% diperkirakan terdongkrak sedikitnya 20%. Hal yan sama juga bakal dialami produk deterjen yang sebagian besar baha bakunya merupakan oleochemical. Harga produk sabun diperkirakan naik sebesar 20% atau sama dengan margarin. Perkembangan harga CPO di Rotterdam selama Januari-Mei 2007 ters mengalami peningkatan jika pada Januari sebesar US$597,5 naik menjadi US$607,5 pada Februari, dan naik lagi US$627,5 pada Maret, dan April telah mencapai US$740 per ton, sedangkan sampai dengan 12 Mei 2007 mencapai US$750 per ton atau US$682 per ton FOB. Harga CPO Masih Cenderung Menguat Penguatan harga minyak kelapa sawit (CPO) dunia mengakibatkan semakin rendahnya pasokan di dalam negeri, sehingga harga minyak goreng semakin       melambung dan semakin menambah penderitaan masyarakat. Pemerintah Indonesia memutuskan harga minyak goreng di dalam negeri dipatok sebesar Rp 6.100 per kg. Sementara harga CPO di Kuala Lumpur telah naik sebesar RM99 ari RM2.470 per ton, dan pada akhir pekan lalu (08/05/07) menjadi RM2.569 (US$755) per ton atau merupakan angka tertinggi yang dicapai sejak 1984 (US$729) per ton. Diperkirakan harga CPO di pasar luar negeri masih mempunyai kecenderungan menguat, karena masih tingginya permintaan di pasar internasional. Penembusan Rekor Harga CPO Tak Tertahan Penembusan rekor harga minyak kelapa sawit (CPO) di Malaysia tidak terbendung, ditengah spekulasi tak terpenuhinya pasokan komoditas itu seiring melonjaknya permintaan China, importir minyak sayur terbesar dunia. Impor komoditas China telah naik 27% menjadi 1,6 juta ton dalam empat bulan pertama tahun ini. Peningkatan harga itu terpengaruh ketatnya pasokan dan keseimbangan prmintaan di pasar. Permintaan telah meningkat 12%-14%, sedangkan kemampuan pasokan hanya naik 8%-9% per tahun, kata Andreas Bokkenheuser, analis UBS AG, Jakarta. Harga kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Agustus di Malaysia Derivatives Exchange naik 53 ringgit ke posisi tertinggi 2.551 ringgit atau setara (US$753) per ton. Harga komoditas itu sempat menyentuh level 2.515 ringgit. Harga rata-rata kontrak CPO di Malaysia sejak awal tahun mencapai 2.085 ringgit per ton. Hingga akhir tahun harga rata-rata komoditas itu bakal mencapai 2.200 ringgit per ton. Tingginya permintaan telah mendorong harga CPO hingga 74% dalam 12 bulan terakhir. Hal itu dipengaruhi aksi merger dan akuisisi lahan perkebunan oleh sejumlah perusahaan dan pabrik pengolahan CPO guna menjaga keamanan pasokan. Malaysia dan Indonesia saat ini merupakan produsen CPO terbesar dengan pangsa pasar 90% dari produksi global. Selain karena permintaan China, kenaikan harga CPO juga didorong spekulasi peningkatan penggunaan komoditas itu untuk biodisel.  


Daftar Buyers PPE 2006

Selasa, 11 September 2007
()

Pengunjung hari ini :  
Total Pengunjung    :  

Copyright © 2003 Indag-DIY. All rights reserved. Contact Us.
Designed by THINKNOLIMITS.